Iki Blog e Wong Jowo

@javanizis
Kalau kamu masih bicara tentang tumbal-menumbal berarti otakmu belum encer dan tidak tahu maksud dari metafora kata “penebusan dosa”…

Jawab—–> Silahkan buktikan dengan “otakmu yang encer” perbedaan antara tumbal dan penebusan dan kaitkan dengan motivasinya.

Dan kalau kamu beranggapan bahwa penebusan dosa hanya sebagai metafora, anda tidak layak menjadi Kristen, sebab :

Menurut Paulus, tidak ada yang ditawarkan oleh agama Kristen kepada umat manusia selain darah dan nyawa Yesus. Jika Yesus tidak meninggal, dan dia tidak dibangkitkan dari kematian, maka tidak akan ada penyelamatan dalam Kristen! “Dan segala kesalehan kami, seperti kain kotor.” (Yes 64: 6).

“Kematian Yesus di kayu salib adalah pusat dari semua ajaran agama Kristen … Semua ajaran Kristen tentang Tuhan, tentang makhluk, tentang dosa dan kematian mempunyai point yang vokal dalam kebangkitan Yesus. Semua ajaran Kristen tentang sejarah, tentang masa depan, tentang Gereja, keyakinan dan kepercayaan semuanya berasal dari kebangkitan kembali Yesus”, kata Profesor Jurgen Moltmann dalam Kebangkitan Tuhan.

Singkatnya, Tidak ada penyaliban! – Tidak ada Kristen!

Jawabanku: Pernyataan Paulus benar.
Tidak ada orang yang berani menentang apa yang dilakukan ahli-ahli kitab yahudi seperti yang dilakukan Yesus.Yesus melakukan pemberontakan spiritual . Seperti yang di ceritakan dalam injil, ahli-ahli kitab yahudi hanya sibuk mencari ke kesenangannya sendiri padahal bangsa itu sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Rakyat Israel, Umat Yahudi. Secara ekonomi terpuruk. Ahli-ahli agama yahudi bahkan sibuk mengumpulkan kekayaannya dari hal-hal yang bersifat keagamaan. Bait Allah dijadikan sarana bisnis yang menguntungkan.
Sehingga Yesus mengatakan, “Rumahku rumah doa mengapa kamu jadikan sarang penyamun” dan hal itu telah dinubuatkan oleh nabi-nagi sebelum Yesus.
Bahkan Ketika Yesus menyembuhkan orang sakit ahli-ahli agama itu sudah berencana mengenakan pajak kepada Yesus
Umat Yahudi tidak boleh membawa kambing atau sesuatu yang lain dari rumah tetapi harus membeli ditempat yang sudah ditentukan dengan harga yang sekian kali lipat. Semua itu dilakukan demi pemenuhan ajaran agama. Siapa yang diuntungkan ?….
Sementara umat hanya diberi janji dengan akan mendapat pahala dan surga kelak apabila sudah mati. Adilkah ini. Adilkah Tuhan dengan pernyataan dan kenyataan yang ada.
Pernyataan Paulus itupun bukanlah buah yang matang, sehingga dapat ditelan bulat-bulat. Karena lewat apa yang telah dilakukan Yesus umat kristen tidak berada dalam wilayah otoritas dan teritorial agama yahudi.

Pada komentar anda sebelumnya

Dua belas suku Israel tersebut adalah definisi secara lahiriah, memang betul-betul orang Israel secara fisik, bukan Israel secara Rohani. Jadi menurut ayat tersebut, orang-orang non Israel tidak ada jaminan masuk syurga. Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa pintu syurga yang tersedia, sudah tertulis nama-nama suku Israel :

Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua be-las malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel, Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Wahyu 21:12-13

Dan Yesus hanya bertanggung jawab kepada domba-domba gembalaannya saja, dalam hal ini salah Israel.

Jawab Yesus: “Aku diutus HANYA kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
Mat 15:24

ayat Mat 15:24 sangat jelas, tak perlu ditafsirkan lagi.

Pertanyaan pertama yang muncul Kenapa dan mengapa Yesus menyatakan, “Aku diutus HANYA kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”
Jawabaku

Tentu saja.
Wilayah agama yahudi, ya untukn umat dan pemeluk agama yahudi. Agama di luar agama yahudi pastilah memiliki hukumnya sendiri untuk menentukan dosa-dan kesalahan umat dan pengikutnya. Jadi tidaklah mungkin bagi Yesus untuk memasuki wilaya teritorial keagamaan selain yahudi.
Tapi, apakah sebuah kesalahan apabila, orang bukan yahudi mau menerima ajaran Yesus?.
Paulus menyiarkan kekristenan tidak dengan cara memaksa.

@javanizis
Mengapa kamu melihat dosa itu sebagai sesuatu yang akan diadili diakherat…Apa yang dilakukan Yesus itu nyata.
Dalam tradisi yahudi manusia dikatakan berdosa karena dianggap melanggar hukum Taurat.. Ahli-ahli agama taurat akhirnya menjadi hakim dari apa yang dianggap dosa. Mereka pun akhirnya merasa berhak untuk menghakimi dosa orang dengan dalih melanggar hukum tauran dengan pernyataan “Dosa” . Sehingga Yesus berani berkata.
“Siapa yang tidak berdosa dia boleh melemparkan batu pada perempuan ini”…

Selanjutnya
Jawab—–> Perkataan yesus yang mengatakan “Siapa yang tidak berdosa dia boleh melemparkan batu pada perempuan ini” adalah sebuah khayalan semata.

Adakah hakim di dunia ini yang tak berdosa ?
Jawab >>>>Kamu bisa jawab sendiri
Perkataan Yesus bila diterapkan, maka tidak akan pernah ada istilah hukum dan pengadilan.
Apa yang terjadi bila tidak ada hukum dan pengadilan ?
Jawabku>>>>>Apakah hukum dan pengadilan itu untuk menghakimi orang yang baik dan benar? Pastinya tidak dan bukan.
Maka jadilah orang yang baik dan benar sehingga tidak perlu takut dengan hukum dan pengadilan.
Dari jaman dahulu hukum dan pengadilan tidak pernah berpihak kepada rakyat apalagi yang jelata, yang hina dan miskin. Hukum itu hanya argumen. Siapa yang pandai berdalih dia bisa menang. Hukum itu hanyalah untuk melindungi wilayah kekuasaan. Siapa yang dapat mengeploitasi dia pemenangnya.
Simak perkataan Yesus:
“Bila kamu ada permasalahan dengan saudaramu, baiknya berdamailah dengan saudaramu sebelum hakim dan para pembatunya melemparkan kamu dalam penjara”.
Akhirnya….simpulkan sendiri…..

Dan kamu belum menjawab pertanyaan saya, tentang bukti bahwa dosamu telah ditebus Yesus ?
Salam bagi yang mengikuti petunjuk.
Bukti bahwa dosaku telah ditebus yaitu aku menjadi orang yang merdeka, tidak terikat dengan hukum taurat. Salah satunya harus melakukan korban bakaran untuk menghapus dosa. Cukup dengan menerima Yesus Baca di http://javanizis.wordpress.com/yesus-anak-manusia/

Jangan kamu melakukan kewajiban agamu karena ingin mendapat pujian dari sesamamu karena bila itu yang kamu lakukan maka hanya pujian itulah pahalanya.

Jangan taat hukum karena takut dihukum, tapi lakukan hukum dengan kesadaran. Sehingga hukum itu tidak menjadikan beban dalam hidupmu.

Apakah aku layak disebut kristen apa, tidak aku tidak peduli dengan sebutan.

TANPA MENJADI

Bila Aku membaca Tripitaka dan aku suka.
Haruskah aku beragama Budha?
Bila aku membaca Weda dan aku suka.
Haruskah aku beragama Hindu
Bila aku membaca Al’Quran dan aku suka.
Haruskah aku beragama Islam
Bila aku membaca injil dan aku suka.
Haruskah aku beragama Kristen.

Bila Aku membaca Tripitaka dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Budha?
Bila aku membaca Weda dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Khrisna?
Bila aku membaca Al’Quran dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Muhammad dan peleceh Islam
Bila aku membaca injil dan aku tidak suka.
Akankah aku dikatakan penghujat Yesus.

Aku mengenal Yesus dari orang tuaku yang hingga akhir hayatnya beribadat dengan cara Khatolik. Aku baca injil dengan akal dan minatku tanpa paksaan dari orang tuaku. bahkan ketika hari minggu orang tuaku ke gereja aku sering tidak ikut. Setahun sekali aku ke gereja untuk bertemu dengan orang-orang yang aku kenal dan menjadi temanku. Aku memahami Yesus dengan caraku sendiri. Aku terlepas dari doktrin yang diberikan oleh Pendeta dan Pastor tentang Yesus.

Aku hidup di lingkungan yang 99,999% beragama Islam tapi aku tidak ingin memeluk Islam secara hurufiah sebagai agamaku.

Setelah dewasa aku menikah dengan cewek dengan KTP beragama Islam. Birokrasi pemerintah ingin menentukan bahkan mengharuskan aku merubah KTP ku dengan mengisi kolom agama diisian dengan Islam.
Itu bukan kehendakku mereka yang memaksa padahal wanita yang mau menjadi istriku meskipun aku tidak beragama islam.
Tidak salah bukan bila aku tidak mengimani Islam seperti kakekku yang rela menyisihkan kekayaannya untuk bertamsya ke Mekah, untuk mendapatkan Predikat dan Sebutan Haji sebagai pemenuhan peribadatan agamanya dengan iming-iming masuk surga. Tetapi kakekku tidak mengijinkan anak dan cucunya memangilnya ABBA dan tetap ingin di panggil bapak dan mbah karena, ABBA itu artinya BAPAK. Kakekku tidak menjadi ke arab-araban meskipun telah menunaikan Ibadah Haji.

Dari waktu ke waktu aku mencoba memahami, ternyata aku lebih suka dengan ajaran falsafah dan kebudayaan warisan leluhurku, kakek dan nenek moyangku yang Jawa. Tradisi yang ada sebelum agama-agama dari mancanegara berdatangan ke Tanah Jawa. Yang dianggap salah oleh pemeluk dan yang menjadi umat agama-agama manca, karena dianggap tidak menyembah (yang mereka sebut dengan Allah), tetapi nenek moyang menyebutnya Sang pencipta yang memberi hidup dan menghidupkan.

Gusti Hingkang Akaryo Jagad. Gusti Hingkang Aparing Gesang lan Anggesangaken”

Falsafah dan Kebudayaan yang tersisih dari tempat di mana berasal. Biarlah hanya aku dan beberapa orang yang terus melestarikan. Meski mereka menganggap Salah.

Aku bangga dengan tokoh (meski mungkin hanya tokoh rekaan) yaitu Ki Lurah Semar yang oleh Ayu Utami ditulis dalam Artikelnya “Semar Pernah Mejadi Ratu” di http://www.ayuutami.com. Semar sebagai tokoh Wayang yang berasal dari budaya lokal dan kebijaksanaan lokal sebagai pemomong Pandawa yang di adobsi dari Mahabarata dari India

Mencari Mensasi

Banyak yang mencari sensasi dari balik nama dan kepopuleran Yesus yang diklaim oleh pengikutnya sebagai nabinya dan di anggap bersalah oleh yang tidak mempercayainya bahkan yang menghujatnya. Mungkin membicarakan Yesus kerena kepopuleranya memang dapat memberikan keuntungan materi baik yang pro maupun kontra, bagi yang memuji, dan membela maupun yang bagi yang menghujatnya Termasuk buat aku. Akupun ingin membicarakan Yesus entah untuk membela atau menghujatnya, karena aku memiliki pandangan yang berbeda dengan pemujanya dan penghujatnya. Bila dikatakan aku pembelanya nyatanya aku tak melakukan apapun.
Aku mencintai Sarathusta
Aku mencintai Yesus
Aku mencintai Sidharta Gautama
Aku mencintai Mohammad
dan Orang Lain sebagai Pemberi spiritual

Sepakat dengan pidato SBY bahwa Tragedi Priok 14/4/2010 seharusnya bisa dihindari. Hal ini beralasan karena Pemerintahan SBY sejak menjalankan kekuasaannya relatif konsosten terhadap upaya banyak pihak membuka ruang-ruang komunikasi publik. Tentu langkah semacam ini sangat dipentingkan mengingat transisi demokrasi memiliki potensi konflik vertikal yang cukup besar.
Kehendak publik untuk mengambil alih sejumlah otoritas negara yang diinginkan oleh semangat reformasi tentu akan berhadapan dengan budaya politik birokrasi yang selalu ingin mempertahankan kekuasaan sekalipun seringkali bertentangan dengan hukum. Tarik-menarik kewenangan antara kepentingan publik dan penguasa ini terjadi secara menyeluruh di berbagai level kekuasaan. Sebut saja konflik kewenangan pemegang otoritas Kamtibmas (TNI) dan Kepolisian (Dwi Fungsi ABRI), konflik penegak hukum (Polisi, Jaksa, dan Pengadilan) dengan KPK dan berbagai elemen dibelakangnya (Cicak vs Buaya) , konflik pemegang otoritas keuangan BI dan DPR sebagai representasi publik (Century Gate), serta banyak lagi yang masih akan terjadi.
Sebenarnya Pemerintahan SBY telah menyadari betapa pentingnya komunikasi aksi yang harus dilakukan pemerintah dalam menjalankan kebijakannya karena setiap kebijakan baik yang populer apalagi yang tidak populer akan berhadapan dengan kekuasaan (semu) opini publik. Tetapi hal itu belum menjamin birokrasi di bawahnya serta-merta mengikuti langkah-langkah SBY.
Tragedi berdarah Priok, terlepas dari kepentingan antara Pemerintah dan ahli waris makam Mbah Priuk, merupakan contoh kongkret betapa Pemerintah DKI Jakarta benar-benar belum mau melepaskan budaya politik lamanya, “Pemerintah harus menang”. Padahal publik telah megalami berbagai kondisi yang semakin menguatkan posisinya dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Konflik Priok adalalah sebentuk ketidakmampuan penyelenggara negara di bawah Presiden yang sama sekali tidak mampu mengikuti pergeseran kekuasaan di masa transisi demokrasi.
Upaya “penertiban” menggunakan cara-cara kekerasan bukanlah sikap cerdas pemerintah hari ini, karena sebenarnya masyarakat sudah jengah jika harus melakukan dan mungkin menjadi korban tindak kekerasan. Upaya komunikasi yang sudah dijalankan oleh masyarakat telah berhadapan dengan tembok kepongahan penguasa yang “selalu harus menang”. Cara-cara kekerasan untuk menguasai aset produksi (termasuk di dalamnya tanah) tidak lebih dari adobsi sempurna pemikiran Karl Marx tentang “revolusi sebagai keniscayaan”. Maukah pemerintah DKI disebut sebagai pengikut paham Marxisme? Pertanyaan konyol yang pantas diberlakukan kepada pihak-pihak yang tidak berkembang kematangan ideologinya. Pertanyaan konyol yang akan menjadi bahan tertawaan para intelektual yang sudah bertahun-tahun merevisi dan menempatkan kembali pemikiran Marx sebagai teori yang hari ini layak untuk disimak kembali.
Konflik sebagai media untuk merebut kekuasaan adalah keniscayaan begitu Marx berpendapat. Tetapi revolusi (kekerasan)sebagai jalan meraih kekuasaan itulah yang tidak disepakati oleh kaum revisionis Marx. Sebut saja Jurgen Habermas yang mensyaratkan adalanya komunikasi bebas dominasi antara berbagai pihak yang untuk menyelesaikan konflik sosial. Karena hanya dengan jalan demikian perubahan sosial akan membawa masyarakat menuju tatanan yang lebih baik, demokrasi. Tatanan demikian mensyaratkan komunikasi yang bebas penguasaan dan akan sangat sulit dipenuhi oleh pihak-pihak yang masih takut untuk melepaskan baju kekuasaan. Mereka harus sepenuhnya menggunakan baju kemanusiaan tidak peduli pihak birokrasi pemerintah atau rakyat sekalipun. Segala peraturan, kebijakan, ataupun kepentingan yang berbaju kemanusiaan tidak akan membiarkan tindakan-tindakannya mencelakakan dan berpotensi menghilangkan nyawa manusia itu sendiri. Tentu karena ide kemanusiaan mewajibkan setiap tindakan pekerjaan tidak memisahkan diri dari rasionalitas, dan yang membedakan antara ras manusia dengan hewan.
Tindakan kekerasan tentu tidak perlu menggunakan kesadaran rasionalitas manusia. Polisi, Satpol PP hanya wajib menjalankan tugas sebagai aparat birokrasi yang dengannya mereka dibayar dan hidup. Tetapi apakah dirinya sebagai manusia merasa wajib melukai dan memberangus jiwa manusia yang tidak berseragam. Jika memang harus, maka setiap obyek kebijakannya perlu menjerumuskan diri pula untuk melakukan upaya-upaya pertahanan fisik yang tentu tidak mengindahkan rasionalitasnya sebagai manusia.
Jika pemerintah atau rakyat ingin menguasai Priok, tentu tidak cukup dengan dokumen yang secara hukum memberinya kekuatan. Tidak juga cukup dengan aparat atau pasukan bersenjata yang bisa membinasakan makhluk sejenisnya, manusia. Kedua belah pihak harus mampu menggunakan rasionalitas khas miliknya, manusia. Tentu komunikasi yang bebas penguasaan akan lebih menempatkan dirinya sebagai pemerintah pemegang otoritas yang diakui oleh rakyat. Mungkin dengan itu, kita benar-benar memiliki Pancasila yang berkemanusiaan dan tidak menjadikan paham Marxisme sebagai ideologi. Ingat: Pemerintah yang anti Marxisme kadang adalah penganut Marxisme Ortodoks.

Oleh: Hidayatullah, S.Sos. (Pengagum Teori Marx)

Tulisan di atas saya minta khusus dari Hidayatullah, S.Sos. (Pengagum Teori Marx) untuk blog ini

Pemikiran

Seorang senior memberikan nasihat, Begini
“Hendaknya kamu melakukan 3 B yaitu Benar, Benar, dan Benar”
Apa itu ?
Benar dalam berfikir.
Benar dalam berbicara. Isinya menyangkut masalah kejujuran.
Benar dalam berbuat atau bertindak.

Hal apa yang dijadikan ukuran ?
Jawabannya adalah Hati Nurani

Pikiran yang baik, akan menghasilkan perkataan yang baik, dan diharapkan terealisasi dalam perbuatan dan tingkah laku yang baik.
Mungkin saja terjadi Pemikiran yang jelek di ramu dalam kata-kata yang baik, dan direalisasikan dalam perbuatan yang sesuai dengan apa yang dipikirkan

JAVANIZIS

Sebelum agama-agama manca negara (Hindu, Budha, Islam, Kristen) datang ke tanah Jawa. Menurut para sejarawan di jawa sudah ada kepercayaan yang disebut dengan animisme dan dinamisme. Mereka mendifinisikan animisme adalah penyembahan kepada bendah-bendah mati, dan dinamisme adalah penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang.Satu hal yang mungkin tidak diketahui bahwa penyembahan kepada roh-roh itu. Bahwa nenek moyang menyembah rohnya sendiri. Roh yang membuat dan memberinya hidup. Yang oleh Agama-agama pendatang disebut : Dewa, Allah, Alloh, Yahwe, Yehova, God, dll
Ketika agama-agama dan budaya manca negara datang (Hindu, Bhdha Islam, Kristen bahkan Konghucu)Berdirilah Prambanan, Borobudur dan Candi-Candi lain yang menyebar di tanah jawa. Berdirilah Masjid Demak yang agung. Semua Menjadi bagiannya. Bagian demi bagian dan terus tumbuh di bumi pertiwi, semakin kayalah budaya tanah jawa oleh kasanah. Karena nenek moyangku begitu terbuka dan selalu bersikap positif.Budaya di tanah Jawa jawa itu tidak bisa disebut Budaya Hindu, Budaya Budha, Budaya Islam, Budaya Kristen. Tetapi Budaya yang berkepribadian.
Budaya Jawa memiliki ciri khas yang njawani dan njiwani.
Apa itu njawani?
Apa itu njiwani?

Semua itu hampir lenyap karena kebodohan dan ketoloan kita yang tak dapat menghargai karya agung nenek moyang, sehinnga ibu pertiwi ingin mengembalikanya ke rahimnya lewat semburan gunung, gempa, dan banyak pula yang di jarah tangan-tangan jahil

Manusia menciptakan Peradapan, manusia Juga yang Memnghancurkannya. Begitulah salah satu kata-kata yang di ungkapkan oleh Khalil Gibran. Sebuah Peradapan akan dihancurkan perhadapan lain yang lebih besar dan lebih berkuasa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.