Komentar Anda
Saya sebagai orang jawa (barat) dengan jiwaku yang sunda, dengan budaya sunda, dan jelas Agamaku adalah Islam. Saudara katakan jelas bukan Islam, kalau begitu apa? KEJAWEN, bukan? Ah, tidak penting juga saya mengetahui apa agama saudara, yang penting saudara masih beragama yang mengakui Tuhan itu Maha Esa, kan? Soalnya di Negara Pancasila ini tidak ada tempat untuk ateisme! Sila pertamanya saja sudah jelas, Ketahunana Yang Maha Esa.
Jawaban Saya
Jawa adalah Jawa.
Sebelum agama-agama mancanegara datang (Hindu, Budha, Islam, Kristen) datang ke tanah jawa. Menurut para sejarawan di jawa sudah ada kepercayaan yang disebut dengan animisme dan dinamisme. Mereka mendifinisikan animisme adalah penyembahan kepada bendah-bendah mati, dan dinamisme adalah penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang.
Apakah penemuan tentang spiritual penghuni tanah jawa hanya sebatas itu. Belum tentu bukan?
Satu hal yang mungkin tidak diketahui bahwa penyembahan kepada roh-roh itu. Bahwa nenek moyang menyembah rohnya sendiri. Roh yang membuat dan memberinya hidup. Yang oleh Agama-agama pendatang disebut : Dewa, Allah, Alloh, Yahwe, Yehova, God, dll
Komentar Anda :
Syukurlah, bagi kita manusia ini memang harusnya “bisa merasa, bukan merasa bisa. Agama dan spiritual jawa yang mana kalau saya boleh tahu, kejawen kah, hindu kah, budha kah, atau apakah?
Jawaban Saya :
Jawa adalah Jawa
Kejawen adalah sebutan bagi orang bukan jawa yang ingin belajar spiritual jawa
Lanjutan Tulisan Anda
Setahu saya, inti dakwah Islam, itu tidak berusaha melenyapkan agama lainnya, malah bagi orang tua yang beragama Islam harus mendidik anak-anaknya agar tahu bahwa ada agama selain Islam, agar mereka tahu kenapa hanya Islam yang diridhoi disisi Allah Swt. Menurut Al-Quran, manusia baru benar-benar berhak memperoleh kehormatan spiritual apabila ia secara sukarela memilih jalan yang benar. Tidak seorang pun dapat dipaksa untuk menjadi orang yang mendapat bimbingan yang benar, ini masalah hidayah-Nya. “Tidak boleh ada paksaan dalam hal agama. Sesungguhnya itu telah nyata bedanya dari yang tidak benar… (2: 256)
Komentar saya :
Seharusnya begitu.
Tapi banyak dari mereka ( menurut ku) hanya memahami sedikit tentang agamanya (Islam) mereka bertingkah seolah merekalah yang terbaik dan tu fanatiknya … minta ampun…Mereka bahkan mentertawakan bila ada orang Jawa, Kristen yang menyebut Allah bukan Alloh . Itulah salah satu hal yang membuat aku mengatakan mereka menjadi kearab-araban. Apakah hanya dengan alasan itu ?
Tentu tidak.
Selanjutnya
Lalu untuk masalah dakwah, menyatakan sebuah kebenaran itu adalah hak asasi. Orang beriman berkewajiban untuk menyatakan kebenaran tanpa takut-takut dan bukan pula karena kemurahan hatinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia”Maksudnya: orang yang tergugat atau yang terdakwa. Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu Karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan (4: 135) betapa dalam ayat tersebut seorang Muslim diwajibkan menegakkan keadilan sebenar-benarnya, agar kebenaran yang memang benar tegak berdiri di bumi Allah ini. Dan, kami setiap Muslim sudah diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar melakukan dakwah (penyampaian) walaupun hanya satu ayat, kepada sesama Muslim. Dan, kepada mereka yang belum mengenal kabar tentang Islam sama sekali, ingat hanya menyampaikan, masalah mereka mau berIslam atau tidak itu urusan mereka, dan kami tidak berkewajiban untuk memaksakan. Karena setelahnya, “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam (6 : 125) saya sendiri baru secara benar diberikan petunjuk untuk benar-benar memeluk Islam, baru terjadi awal tahun 2008, sebelumnya hanya Islam KTP!
Tanggapan Saya:
Mungkin seharusnya memang begitu.
Teman saya yang menurut saya pemahaman agamanya (Islam) baik memberikan difinisi kata Muslim.
Menurutnya, “Muslim adalah orang yang dapat menciptakan lingkungan yang damai di mana ia tinggal”. Jadi ada seseorang yang mengaku beragama Islam tetapi bila dalam kehidupan di mana dia tinggal hanya menciptakan kekacaun dia tidak layak disebut muslim.
Apakah anda pernah membaca buku yang diberi Judul “DARMO GANDUL”
mungkin dalam bahasa indonesia “DARMA YANG MENGGATUNG”. Sekarang sudah ada yang diterjemahan ke dalam bahasa indonesia.
Buku itu menceritakan runtuhnya Kerajaan Mojopahit atas serangan Kerajaan Demak yaitu Kerajaan Islam Pertama di Tanah Jawa.
“Selamat mencari dan selamat membaca”
Sebuah Cerita
Suatu malam entah tanggal berapa sekitar tahun 2005 di pos kamling di kampungku. Aku siskamling dengan beberapa orang. Tiba-tiba ada motor berhenti. Ternyata orang itu rumahnya di desa sebelah.
Dia Koponakannya Pak Haji yang Cukup kaya dan berpengaruh di Dua Kecamatan. Saat ngobrol dia bahkan menekankan bahwa mengambil milik orang yang tidak beragama islam itu halal. Aku hanya menjawab dalam hati….Ah.. begitu piciknya pemikiran orang ini. padahal setahu saya yang diajarkan Muhammad tidak demikian. Orang ini membaca Al Quran hanya sepenggal-sepenggal sehingga menyesatkanya.
TULISAN ANDA
Nah, betapa Sultan Muhammad I sebagai pemerakarsa pengiriman tim dakwah tersebut mempertimbangkan segalanya, dan berniat baik, tidak berupaya melakukan penaklukan yang bersifat kekerasan. Mereka para utusan itu orang-orang terpilih, dan melakukan pendekatan melalui kebudayaan pribumi sendiri dalam melakukan upaya syiar Islam. Tidak serta merta menerapkan kebudayaan atau peradaban arab? Saat pra-Islam itu disebut kebudayaan dan peradaban Arab, tapi pascaIslam, sudah menjadi kebudayaan dan peradaban Islam, tidak terbatas kepada arab atau non-arab! Mereka para utusan juga tidak semua berkebangsaan atau keturunan ras semit di semenanjung arab, ada juga yang dari Turki yang lebih dekat kepada Eropa, yang jelas-jelas dari segi geografis dan budaya dasar Turki berbeda dengan Hijaz”Mekkah dan Madinah. Saya tekankan justru bangsa Arab sebelum Islam datang, ialah sebuah bangsa yang tidak berbudaya dan berperadaban tinggi.
KOMENTAR SAYA:
Maksud baik harusnya membuahkan hasil yang baik. Benar begitu ?
Tapi yang namanya manusia pasti memiliki nafsu.
Maksud baik itu tidak membuahkan sesuatu yang baik bila disertai dengan ambisi pribadi. Apalagi bila ambisi pribadi itu diselibkan pada agama. Tentu saja hal ini tidak hanya terjadi di Islam. Ini juga Terjadi di Kristen, Hindu, Budha.
Untuk menjawab Tulisan anda di bawan ini, ijinkan saya bertanya:
Anda sudah baca Novel “BILANGAN FU” karya AYU UTAMI.
Jawaban saya juga ada di sana
Mungkin Mereka memang bukan muslim. Ya?
Baca Juga Kumpulan Cerpen “GODLOB” karya Danarto Yatman Danarto Yatman adalah Dosen Psikologi di Universitas Diponegoro
Pertanyaan Anda:
Saya heran, Muslim yang manakah yang saudara bilang menghina keyakinanan nenek moyang saudara?
Seorang Muslim sejati, tidak akan menghina secara langsung atau pun tidak langsung, seorang Muslim hanya menyatakan apa yang Allah dan Rasul-Nya katakan. Muslim harus bicara dalam koridor kebenaran yang memang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Masalah lintas Iman, Perbandingan Agama, saling melakukan kajian Kritis terhadap keyakinan yang berlainan itu sesuatu yang wajar dan boleh, asalkan bermaksud untuk mencari kebenaran, membuktikan kebenaran, bukan untuk menjatuhkan, menghinakan, dan atau melenyapkan. Dan tidak boleh dengan nafsu harus berlandaskan wahyu. Tapi, sekarang ini sebagaimana saudara katakan, dalam dunia maya, khususnya blog, memang sudah tidak karuan, mereka tidak hanya non-Muslim, tapi Muslim juga sungguh tidak mencerminkan adab yang baik. Malah lebih terkesan wahana untuk saling menjelekkan menghina, dan sangat tidak ilmiah, mereka tidak menggunakan epistemologi serta metodologi yang benar dalam mengkaji suatu agama tertentu. Saya sendiri sudah bosan, apalagi banyak dari mereka yang katanya pejuang agamanya masing-masing, pengecut, pecundang, bersembunyi dibalik keanoniman.
Komentar Saya:
Mungkin Mereka hanya mengaku-ngaku Muslim, ya?
Mungkin Mereka hanya mengaku-ngaku Kristen, ya?
Mungkin Mereka hanya mengaku-ngaku Budhis, ya?
Mungkin Mereka hanya mengaku-ngaku Hinduis, ya?
Pertanyaan Anda:
Suadara katakan roh jawa? Sejak kapan ada pembedaan roh? Berarti saya roh sunda, memangnya apa yang saudara maksudkan dengan roh itu? Sepertinya saudara tahu benar tentang seluk beluk roh, kalau saya sebagaimana difirmankan Allah, saya hanya sedikit diberi pengetahuan soal roh.
Saudara ini bicara Arab atau Islam? saya jelaskan bahwa tidak setiap orang Arab itu Islam, diluar Hijaz, mereka yang keturunan Arab juga ada yang non-Muslim. Jadi, tidak ada yang namanya dalam Islam membeda-bedakan suku, ras, atau apapun. Alquran hanya mengenal satu kriteria yang menjadikan seseorang itu lebih tinggi dari yang lain, yaitu masalah ketaqwaan. Perbedaan atas dasar keturunan, kesukuan, warna kulit, ataupun tanah air tidak relevan dalam Islam. disebutkan Hai Manusia! Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling berkenalan. Sesungguhnya yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Sadarâ (49: 13)
Jawaban Saya:
Saya sebagai orang Jawa dengan Spiritual Jawa selalu bertanya, “Di manakah aku sebelum lahir, dimana aku sebelum bapak dan ibuku lahir di mana aku sebelum bapak dan ibuku menikah.
Yesus dalam injil menyatakan bahwa ia ada sebelum Ibrahim ada.
Muhammad menyatakan bahwa Ia ada sebelum Adam ada. Yaitu Nur Mohammad. Yaitu Roh. Rohku ada sebelum bapak dan ibuku lahir.
Saya katakan roh jawa karena aku terlahir dari nenek moyang jawa.
Memang seharusnya tidak ada perbedaan roh apabila mereka, aku dan anda merasa dan meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan dengan 99 nama (Asma Hulusna) mungkin begitu tulisanya. Angka 99 di kitab itupun menurut saya hanya simbul karena angka terbesar adalah sembilan.
Mungkin perkataan saya di bawah ini anda anggap perkaan orang gila. Aku pada saat Raja Samaratungga memerintah Mataram Kuno dan mendirikan Borobudur. Aku ada saat Mojopahit ada. Aku ada saat ini dengan nama yang diberikan oleh Dat yang memberi Hidup dan Kehidupan dan Itulah yang menghantarkan aku kepada : Dewa, Allah, Alloh, Yahwe, Yehova, God, dll. Dan Apapun sebutannya
Komentar Anda:
Izinkan saya berkomentar :
Saya sendiri tidak terlalu perduli dengan agama selain Islam, karena menurut keyakina saya hanya Islam-lah yang memenuhi segala kriteria untuk dinamakan agama, yang lainnya itu budaya. Itu menurut pendapat pribadi saya lho. Wah, kalau itu silahkan saja, kalau saya ya Islam berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah, serta Manhaj Ahlulsunnah Wal Jamaah, dan saya hanya mengamini segala pendapaat para sahabat generasi pertama hingga ketiga, setelahnya itu cukup meragukan dan harus detalaah secara cermat apakah pendapat mereka tetap berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah atau tidak, termasuk Islam Liberal, apa itu? Islam ya, Islam. Saya sendiri tidak terlalu tahu tentang JIL, karena tidak ada untungnya sih tahu juga. Yang saya tahu mereka berusaha melakukan pembaharuan Islam, dan dakwah agar dapat diterima semua kalangan, tidak hanya Muslim tapi juga non-Muslim, dengan jalan apapun termasuk mengkritisi secara habis-habisan dan mencari celah kelemahan agamanya sendiri. Saya baru lihat itu hanya terjadi dalam Islam, agama lain mana ada bagian umatnya atau pemuka agamanya yang berani mengobrak-abrik agamanya sendiri, justru malah memolesnya agar tidak terlihat cacat, itu kalau agama lainnya yang saya lihat. Sebaiknya, saudara datang langsung saja ke Utan Kayu, kalau saya sih sering lewat markasnya JIL. Tidak perlu dengan pendapat JIL, Islam memang agama damai, dan selamat. Jika saudara baca buku karangan Prof. Philip K. Hitti, jelas ia memaparkan betapa setelah Islam menyebar, Islam benar-benar memuliakan manusia yang amat jahiliah ke arah yang sangat manusiawi. Menghancurkan dan memecahbelah itu berawal dari kebencian, dan itu datang dari luar Islam, adapun yang datang dari dalam Islam, itu karena kemunafikan mereka, mereka membuat kisruh dari dalam, hingga muncullah sekte-sekte dalam Islam. Dan itu berawal dari hawa nafsu, kemunafikan, dan tidak totalnya berserah diri kepada Allah Swt. Mereka berusaha ingin jadi imam, pemimpin, nabi, rasul, dan yang lainya. Kalau saya sih tidak bernyali mengaku nabi! Memang ada kalangan Muslim yang terlalu ekstrim dalam berdakwah, tapi tidak lantas memburukkan Islam yang memang sudah mulia dari sananya, itu hanya fakor manusianya saja. Dan itu tidak bisa dijadikan bahan legitimasi bahwa Islam bukan agama damai, saya dan kami ini yang Muslim, sangat mengaktualisasikan bahwa Islam itu damai, dan tanpa harus mengakui bahwa semua agama itu benar, kami, dan saya tepatnya tetap bertolerani dengan masyarakat yang non-Muslim, bergaul, bermuamalah, tidak ada batas. Saya punya, sahabat non-Muslim, saya punya teman seorang pendeta, dan lainnya. Itu biasa saja, asalkan tidak dalam koridor campurtangan masalah ajaran dasarnya.
Tanggapan Saya
Agama bisa menjadi budaya budaya bisa menjadi agama.
Kalau ada alasan bahwa salah satu agama di anggap sudah mendapatkan legalitas, restu, ridloh dan hidayah dari Allah itu juga pernyataan manusia yang di sebut nabi dan rosul.
Ketika Musa mendapatkan 10 Perintah Allah dengan kitab sucinya Taurat yang lalu disiarkan kepada orang-orang israel sampai sekarang disebut agama Yahudi. Agama itu mejadi budaya aturan dan adat istiadat bagi Bangsa Yahudi. Aturan-aturan itu diperkuat oleh tokoh-tokoh selanjutnya, sebut saja Daud, Sulaeman. Sampai pada Yesus. Isa Al masih yang dihukum salib karena dianggab melanggar adat dan spiritual Yahudi, sehingga memnculkan agama baru yang disebut Kristen. Padahal bila aku baca injil Yesus tidak pernah menyebutkan bahwa dia beragama Kristen. Kata-kata Kristen justru muncul setelah Yesus Tewas di kayu Salib. Para Sahabatnya dan orang-orang yang menganggap apa yang diajarkan, yang di khotbakan itu baik sehingga terciptalah sebuah komunitas. Dan mereka menyebutnya ataupun disebutnya Kristen. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan akhirnya menjadi adat dan budaya. Saya pikir demikian juga dengan Islam. Agama bisa menjadi budaya, budaya bisa menjadi agama.
Dalam Tulisan Saya:
Agama berasal dari bahasa Sansekerta A dan Gam yang artinya tidak kacau. Ngapain sih ngurusin agama orang lain, ngapain sih ngurusin keimanan orang lain. Yang perlu di pertanyakan adalah mengaktualisasikan keagamaan dan keimanan itu sehingga layak disebut muslim, layak disebut Kristen (pengikut Yesus) seorang teman memberikan difinisi bahwa muslim itu adalah orang yang bisa menciptakan lingkungan yang damai dimana dia tinggal. Orang ateis membuat kacau… itu wajar. komunis berbuat kacau ..nanti dulu. Berarti belum komunis karena belum menciptakan komunitas yang baik dan manusiawi. Kafir membuat kekacauan. Belum tentu… Banyak tu pemikir-pemikir tentang kemanusiaan berasal dari orang kafir. contohnnya: Sokrates, Aristoteles,Plato
.
.
Komentar Anda:
Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din dari bahasa Arab, dan kata religi dari bahasa Eropa. Agama berasal dari kata Sansekerta. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun. Agama memang mempunyai sifat demikian. Ada lagi pendapat yang mengatakan agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang mempunyai kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa agama adalah tuntunan. Memang agama mengadung ajaran-ajaran yang menjadi penuntun hidup bagi penganutnya. Itu pendapat dari Prof. Harun Nasution.
.
.
dan dalam bahasa Semit ”akar dari bahasa Arab. Berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum, yang harus dipatuhi. Agama selanjutnya memang menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh pada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Agama lebih lanjut lagi membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang menjadi hutang baginya. Paham kewajiban dan kepatuhan membawa pula kepada paham balasan. Yang menjalankan kewajiban dan yang patuh akan mendapatkan balasan baik dari Tuhan. Yang tidak menjalankan kewajiban dan tidak patuh akan mendapatkan balasan yang tidak baik.
.
.
religi berasal dari bahasa latin. Menurut satu pendapat asalnya itu relegere yang mengandung arti mengumpulkan, membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan. Itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain, kata itu berasal dari religare yang berarti menikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Dalam ajaran agama selanjutnya terdapat pula ikatan antara roh manusia dengan Tuhan. Dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Tuhan.
.
.
intisari yang terkadung dalam istilah-istilah di atas ialah ikatan. Agama memandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan itu berasal dari sesuatu yang ghoib yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindra, oleh karena itulah Dia, mengutus para utusannya, nabi dan rasul untuk membawa kabar gembira dan Tuhan berbicara melalui bahasa alam dan bahasa tulisan yang termaktub dalam kitab sucinya. Inilah mungkin salah satu kelemahan Tuhan agama manapun, atau mungkin sebut saja kesengajaan Tuhan untuk menguji manusia apakah dia tetap dijalur yang benar atau tidak, Tuhan tidak Maha Berbicara selayaknya manusia. Itu hanya pandangan saya lho. Untuk itulah dia bicara melalui kitab sucinya.
*
*
*
Komentar saya:
Dari tulisan anda di atas juga semakin menguatkan pendapat saya
bahwa agama bisa menjadi budaya dan budaya bisa menjadi agama
untuk menguatkan pernyataan saya silahkan anda baca buku “Penghantar Antropologi” karya Koentjoroningrat. Budaya dan adat-istiadat juga memberi ikatan kepada manusia, dengan sangsi utama adalah moral.
Dalam buku Kebudayaan dan Mentalitas Pembangunan Koentjoroningrat mengatakan…..
Religi adalah bagian dari kebudayaan, karena tiap Religi merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat komponen yaitu.
1. Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia itu bersifat religieus;
2. Sistem keyakinan yang mengandung segala keyakinan serta bayangan manusia tentang sifat tuhan, tentang wujud dari al
am gaib (supernatural); serta segala nilai, norma dan ajaran dari religi yang bersangkutan;
3.Sistem ritus dan upacara yang merupakan usaha manusia untuk mencari hubungan dengan tuhan, dewa-dewa, mahluk – mahluk halus ang mendiami alam gaib
4. Umat atau kesatuan sosial yang mengatut sistem keyakinan tersebut dalam sub 2, dan yang me
laksanakan sistem ritus dan upacara tersebut dalam sub 3
Petunjuk Allah bukan didasarkan pada pemeluk suatu agama apalagi “nama dari suatu agama” tapi pada semua orang yang membuka hatinya, dan yang mau menerima pencerahan. Saya pernah omong-omong dengan orang Katholik (bukan tokoh agama tapi umat) yang mengomentari tentang adanya penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan banyak pendeta Kristen, karena pada saat itu dia diundang untuk menyaksikan. Para pendeta itu meyembuhkan orang dengan perkataan “Dalam nama Yesus maka kamu sembuh. Beberapa orang memang sembuh tapi beberapa orang tidak sembuh malah menjadi seperti kesurupan. Apa yang terjadi menurut teman saya itu karena karomah dan khadamnya kalah tinggi. Teman saya bisa mengatakan itu karena teman saya bisa melihat apa yang tidak terlihat mata.
Pendeta-pendeta itu merasa bangga dengan apa yang dapat ia lakukan. Dia merasa sudah dekat dengan allah sehingga dapat menyembukan orang. Tapi temanku melihatnya lain. Dan kepada orang yang tidak dapat disembuhkan dan menjadi marah. akhirnya teman saya itu yang menyembuhkan. Pendeta-pendeta itu bertanya, “Apa yang kamu pakai untuk menyembuhkan orang itu” . Jawabnya sama dengan yang kamu taitu dengan nama Yesus tetapi tidak berteriak-teriak seperti kamu. Itu hanya jawaban dalam mulut jawaban yang sebenarnya ada di dalam hati, apabila dikatakan yang seberarnya mereka akan mengatakan sama seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi kepada Yesus. Yesus adalah Penghulunya setan.
Comments on: "Tanggapan Khusus Untuk de go blog" (16)
Sebelum agama-agama mancanegara datang (Hindu, Budha, Islam, Kristen) datang ke tanah jawa. Menurut para sejarawan di jawa sudah ada kepercayaan yang disebut dengan animisme dan dinamisme. Mereka mendifinisikan animisme adalah penyembahan kepada bendah-bendah mati, dan dinamisme adalah penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang.
Apakah penemuan tentang spiritual penghuni tanah jawa hanya sebatas itu. Belum tentu bukan?
Satu hal yang mungkin tidak diketahui bahwa penyembahan kepada roh-roh itu. Bahwa nenek moyang menyembah rohnya sendiri. Roh yang membuat dan memberinya hidup. Yang oleh Agama-agama pendatang disebut : Dewa, Allah, Alloh, Yahwe, Yehova, God, dll
Baiklah, Jawa adalah Jawa. Saya sendiri sependapat dengan para sejarawan bahwasanya sebelum datangnya agama, di nusantara ini sudah ada yang dinamankan kepercayaan. Kalau ditanya apakah hanya sebatas itu, ya, bisa jadi lebih dari itu, perlu penelitian yang lebih lanjut. Menarik sekali pernyataan mas “nenek moyang menyembah rohnya sendiri” sebenarnya dengan pernyataan tersebut mensiratkan bahwa nenek moyang dulunya sudah sadar bahwa dalam dirinya terdiri dari dua unsur jasad dan roh. Namun, karena tidak menemukan dan diberi petunjuk oleh sang maha hidup, maka mereka malah menuhankan dirinya sendiri, jadi tidak nyampe ke masalah, Siapa yang menciptakan. Saya kurang yakin juga, apakah nenek moyang itu memiliki konsep yang sama dengan agama-agama yang belakangan hadir.
Kejawen menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan jawa. Dan termasuk jenis kata benda.
Komentar Mas Java
Dari tulisan anda di atas juga semakin menguatkan pendapat saya
bahwa agama bisa menjadi budaya dan budaya bisa menjadi agama
untuk menguatkan pernyataan saya silahkan anda baca buku “Penghantar Antropologi” karya Koentjoroningrat. Budaya dan adat-istiadat juga memberi ikatan kepada manusia, dengan sangsi utama adalah moral.
Alhamdulillah, mas saya lihat sangat gemar membaca ya? Untuk saat ini memang saya belum sampai pada taraf memperlajari antropologi. Saya malah lebih tertarik mempelajari Sosiologi. Hehehe. Ya, dalam masyarakat ini berlaku banyak norma. Tapi sebagai manusia beragama tentunya saya lebih mengutamakan norma agama. Saya pikir jika kita menjalankan segala aktivitas tidak bertentangan dengan norma agama, maka otomatis juga tidak akan bertentangan dengan norma-norma lainnya.
mas theme blognya jangan yang ini, jatuhnya komentar saya jadi kecil ini.
mas ini juga saya postingkan di blog saya tetap dipostingan yang sama . wah, jadi banyak tempat gini mas. ckckck
maaf telat membalasnya
jangan lupa datang : klik disini
mas tolong komentar saya yang diatas diubah, dimana huruf dari jawaban saya jangan garis miring biasa saja, agar mudah dibaca. maaf loh mas.
Tank’s atas komennya. Ya jujur aja, aku belajarnya otodidak sih. kadang langkah-langkahnya joga lupa.
Carilah ilmu sampai ke negeri china itulah ayng di katakan Nabi anda
Membaca adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan
IQRO’ bacalah!…. Apa yang harus dibaca?
Bukankah begitu ?
“Tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina.”
Riwayat ini batil. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/106, al-Khatib dalam at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanad dari al-Hasan bin Athiyah, dari Abu Atikah Tharif bin Salman, dari Anas bin Malik r.a. Kemudian semuanya menambahkan lafazh fa inna thalabal ilmi faridlatun ‘ala kulli muslimin. Ibnu Adi berkata, “Tambahan kata walaw bish Shin kami tidak mengenalinya kecuali datang dari al-Hasan bin Athiyah.” Begitu pula pernyataan al-Khatib dalam kitab Tarikh seperti dikutip Ibnul Muhib dalam al-Fawa’id.
Kelemahan riwayat ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhadditsin sebagai perawi sanad yang sangat dha’if. Bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan munkar riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang Abu Atikah ini.
Ringkasnya, susunan dari hadits di atas adalah sangat dha’if atau bahkan sampai pada derajad batil. Saya kira kebenaran ada pada ucapan Ibnu hibban dan Ibnul Jauzi yang berkata bahwa hadits di atas tidak ada sanadnya yang baik atau bahkan dianggap baik sampai derajad dapat dikuatkan atau saling menguatkan antara satu sanad dengan sanad yang lainnya.
Adapun bagian kedua (tambahannya), mungkin dapat dinaikkan derajadnya kepada hadits hasan, seperti diutarakan oleh al-Mazi sebab sanadnya banyak yang bersumber pada Anas r.a. Dalam hal ini dari hasil penyelidikan yang saya lakukan, saya telah menemukan delapan sanad yang dapat diandalkan yang kesemuanya bersumber kepada sahabat Rasulullah saw., diantaranya adalah Anas, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Ali, Abu Said, dan sebagainya. Hingga kinipun saya masih menelitinya hingga saya benar-benar yakin dalam memvonis shahih, hasan ataupun dha’ifnya sanad-sanad tersebut. Wallahu a’lam.
sumber silahkan dibaca : Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu’ah wa Atsaruhas-Sayyi’ fil-Ummah karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani
Untuk menambah wawasan tentang JAWA silahkan kunjungi
http://alangalangkumitir.wordpress.com/
Siapakah yg menciptakan agama?rasanya yg menciptakan adalah manusia yg menciptakan…mereke melihat sesuatu,mengalami sesuatu, mendengar sesuatu lalu merumuskan dan mencoba agar orang lain sepaham dengan pemikirannya…yg setuju menjadi pengikut, yg tdk setuju memilih berdiam diri ato menentang ato malah tak mau tahu…yg merasa benar justru adalah org yg paling salah…menunjukkan keAgunganNya bukan lewat memperbanyak pengikut namun melalui perbuatan, tutur kata dan pemikiran yg tepat…jika Tuhan menciptakan agama X adalah paling benar, maka sewajibnya dia membumi hanguskan agama yg lain…namun semua agama masih ada agar manusia bisa memilih mana yg sesuai dgn pemikirannya..karena semua di alam berlaku hukum keseimbangan…tak mungkin di paksa satu…bodohlah mereka yg memaksa mjd satu…I choose say no to fanatism radikal…temukan sendiri diriNya dari lingkungan sekitar, bukan hanya lembaran2 kertas yg manusia sebut kitab…tapi juga dari perbedaan, karena dari perbedaan kita akan berpikir…
Betul. Pendapatku juga begitu.
Sudah tenggok Halaman lain
@nyoemhokgie
sebaiknya mulai mengkaji definisi agama dulu. silahkan rujuk buku Prof. Dr. Harun Nasution
***
aduhai, sekarang ini orang berjalan dalam jalan yang lurus disangka radikal, orang mengkuti sunnah rasul semacam berjenggot disangka teroris, benar-benar dengki telah merasuki mereka.
***
jika ingin mengenal agama, maka belajarlah dari kitab-Nya…
Bukankah sebalikmya juga demikian. Karena tak mau memelihara jenggot disangka….tidak mau mengikuti sunah rasul. Jadi mana yang benar? Seperti juga diceritakan dalam injil. Murid Johanes (Yahya) yang selalu berpuasa disalahkan oleh ahli agama Yahudi. Murid-Murit Yesus yang tidak berpuasa juga salah dimata ahli agama Yahudi
Dari Urian di atas saya akan mengomentari yang ini
Sebenarnya jika saja pengikut Yesus pada saat itu tidak menyeleweng saya rasa Islam tidak akan muncul. Saya juga baca Alkitab terbitan lembaga alkitab Indonesia, jelas tidak ada itu Yesus menamai ajarannya sebagai ajaran Kristen. Setelah selang beberapa waktu baru deh ada yang mengaku bertemu dengan Yesus, yakni Paulus, jadi sekarang ini umat Kristen malah ngikuti ajaran paulus, bukan ajaran Yesus. Perbincangan kita jadi melebar seperti ini mas, masalah sejarah agama Yahudi dan Kristen memang penuh dengan distorsi disana sini. Kalau saya boleh berkesimpulan, dengan Islam ini Allah berusaha menuntaskan dunia dari kekosongan ajaran tauhid yang benar. Sekarang dunia tidak kosong, terisi dengan kebenaran karena adanya Islam. Mas, setelah mas baca Alkitab, PL dan PB, apakah mas menemukan sebuah pertentangan? Antara satu dan yang lainnya atau antara Lukas, Matius, Yohanes, Markus, adakah pertentangan diantara injil yang mereka tulis? Oh, ya, mereka; lukas, matius, markus, yohanes, bukanlah murid Yesus, tapi mereka adalah orang yang kebetulan namanya sama dengan murid-murid Yesus. Dan itu ditulis setelah wafatnya Yesus serta sahabat-sahabatnya. Itu hasil penelitian baru-baru ini. Karena bagi saya juga, secara pribadi, merasa aneh, bagaimana mungkin murid-murid yang bersama-sama belajar pada satu guru akan mengasilkan hasil atau pemahaman yang berbeda terhadap ajaran sang guru, ya kalau hanya beda penyampaiannya sih nggak apa-apa, ini malah subtansinya. Misal guru bilang Anak Bapak Budi adalah Ali, nah murid-murid setelah guru itu wafat malah ada yang berkata bahwa anak bapak budi adalah ali, ada yang bilang anas. Itu sebuah keanehan, apalagi disini mereka dinisbatan sebagai sahahat atau murid Yesus yang paling dekat dan taat. Coba kita ke Islam, para sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dalam hal menyampaikan siar beliau tidak ada pertentangan, apa yang diwartakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali misalnya, tidak ada bedanya, secara subtansi atau dasarnya itu sama, misal Allah adalah maha esa. Tapi karena dunia ini berisikan makhluk sosial, dan dinamis, ada beberapa hal yang memang tidak dijelaskan secara detail, maka perlu adanya pemecahan, melalui pemikiran yang tetap berlandaskan pada yang dasar yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Kita tidak tahu apakah Musa dan Yesus pada masanya mewajibkan para pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan segala ajarannya. Dan, berkaca dari itu saya pikir Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, atas perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersegera melakukan langkah preventif agar ajaran ini tidak diselewengkan sebagaimana yang dilakukan Yahudi dan Kristen, dengan jalan menuliskannya dan menyuruh sahabatnya untuk menghafalnya, belum lagi dalam Shalat di ulang-ulang. Jadi, sangat tidak mungkin terjadinya manipulasi wahyu-Nya. Belum lagi, dari awal hingga kini, bahasanya tetap tidak berubah. Saya tanya, apakah bahasa asli Taurat dan Injil? Sampai saat ini hal itu masih menjadi bahan yang bisa diperdebatkan oleh para peneliti.
Pendapat Saya
Salah besar bila anda mengatakan bahwa orang kristen mengikuti ajaran Paulus.
Ajaran paulus adalah implementasi dari ajaran Yesus.
Tenggok Injil Matius tentang Khotbah di atas Bukit. Menurut saya itulah inti dari ajaran Yesus.
Banyak orang melihat Yesus hanya dari mujizat yang dia lakukan. Tapi seperti yang dikatakan Yesus, “Kamu percaya karena kamu melihat mujizat” Antara injil yang satu dengan yang lain tidak ada pertentangan tetapi saling melengkapi bila itu dianggap pertentangan sebenarnya hanyalah penggunaan bahasa dan cara penyampaian.
Yang namanya wahyu tidak akan dapat di manipulasi oleh manusia
bagaimanapun caranya. karena wahyu itu sifatnya goib.
Dalam Injil Yohanes yang menurut aku sih Luar biasa. Dimana keluar biasaanya. Lain Kali Saya akan membuat tulisan di Javanizis’s blog yang untuk mengulas Injil Johanes menurut orang Awam seperti saya
mas, kabar saya alhadulillah baik, sebenarnya dari hasil kajian kristologi yang saya ikuti di Pusat Pengembangan Islam Bogor, dan bahan-bahan yang ada, memang bukan ajaran Yesus yang sekarang ini umat kristen pegang, tapi ajaran paulus. ah, tapi rasanya, saya malas untuk menuliskannya saat ini. lagi pula, akhir-akhir ini, saya agak malah memperdebatkan lintas iman, yang penting saya sudah tahu, dan bagi saya KETUHANAN YESUS TELAH RUNTUH!
saya hanya mencoba beragama yang benar dengan Islam yang saya cintai sampai mati….
tapi, jika ada kesempatan nanti akan saya coba kasih….
salam, semoga mas java sehat selalu
Dalam injil juga sudah diceritakan dan dijelaskan bahwa akan ada penyelewengan yang dilkukan oleh nabi-nabi palsu atau yang sering disebut dengan anti Kristus. Dan Yesus sendiri memperingatkan adanya penyelewengan itu dengan keras. Para Pengikut Yesus yang akhirnya disebut Kristen harus waspada akan hal itu. Seperti apa penyelewengan itu? Penyelewengan itu dapat dilihat dengan melihat buahnya. Akan banyak orang melakukan penyembuhan dengan menggunakan nama Yesus tetapi dilakukan untuk kepentingan duniawi dan kepopuleran pribadi. Yesus tidak berkenan akan hal itu bahkan Yesus sendiri (dalam injil) yang akan memberikan bagiannya. Tentunya masih banyak penyelewengan yang lain.
Ayatnya kalau ga salah berbunyi demikian “Akan muncul diantara kamu nabi-nabi palsu….dst.
Dari antara kamu berarti dari antara orang kristen sendiri (itu sih menrurutku)
Demikian juga dengan penyelewengan di agama lain. Yang namanya nyeleweng itu tentunya dari dalam, kalau dari luar itu namanya diserang. Yang nyewengkan Budha pasti pemeluknya. Yang nlewengkan Islam pasti pemeluknya. Yang perlu dipertanyakan adalah: “Apa motifasinya?”
Jawabanku: Mereka yang meneyelewengkan agamanya adalah mereka yang ingin mendapatkan keinginan dan kepentingan duniawi. Contohnya kepentingan politik. Agama dijadikan kendaraan politik dengan memanfaatkan kefanatikan dan kebodohan pemeluknya.
Menjadi tokoh agama dan menjadi teladan bukanlah hal yang gampang. Bila kita baca kisah tentang Musa yang berusaha mengelak dengan beberapa alasan untuk menjadi nabi. Demikian juga dengan Ayup semua itu semata-mata karena para nabi itu bertanya “Sanggupkah aku”
kalau saya baca mas javanizis orang yg berhikmat,semakin anda berhikmat semakin jenengan mencari jenengan akan seperti PENGKOTBAH 1:17-18,7;29,
manusia hanya di ributkan dengan perkara yg fasik,takut akan tuhan awal dr segalanya
saya tanya mas usup sudah melakukan semua ajaran agamanya?sholat 5 waktunya sudah dikerjakan tiap hari?puasanya gk pernah bolong,tiap malam sholat tahajud?
sebelum jenengan mengkoreksi ajaran agama org lain,coba koreksi diri sendiri apa jenengan sudah benar melakukan ajaran agama jenengan