Yang pernah mengenyam pendidikan filsafat tentu tidak asing lagi dengan “Mitos Gua” dari Platon. [Oh ya, FYI, versi populer dari Mitos Gua Platon telah diadaptasi secara tersirat dalam Film “The Matrix”….]
Cerita klasik ini selalu memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang baru pertama kali belajar fisafat. Platon, sang filsuf yang menyesali kematian Sokrates, gurunya, di tangan warga polisnya sendiri, mengundang kita untuk memeriksa, sejauh mana kita bersedia untuk keluar dari realitas sehari-hari.
===============
CERITAnya begini
Ada sebuah gua gelap di bawah tanah.
Di sana terdapat sejumlah tahanan yang terbelenggu sedemikian rupa sehingga mereka hanya mampu memandangi dinding gua.
Di belakang para tahanan ada api menyala.
Di antara api dan para tahanan, ada jalan di mana budak-budak berlalu-lalang sambil memikul karung, kendi, patung, dll.
Nah, cahaya api itu menyebabkan timbulnya bayangan benda-benda itu pada dinding gua.
Para tahanan menganggap bayang2 itu sebagai kenyataan/realitas sejati dan tidak ada realitas yang lain.
Lalu, suatu ketika, salah seorang tahanan berhasil melepaskan diri dari belenggu itu.
Sejak saat itu, ia mengerti bahwa pemandangan yang ia lihat selama ini hanyalah bayang-bayang dari berbagai benda yang dibawa para budak.
Ia pun keluar dari dalam gua….
Oh, di luar gua cahaya menyilaukan matanya….
Setelah ia terbiasa dengan kadar cahaya, ia akhirnya melihat pohon, sungai, gunung, rumah, dll.
Terakhir, ia mendongak ke atas langit dan mengetahui bahwa MATAHARI-lah yang menyinari segalanya!
Ia sangat senang mengetahui bahwa ia telah menemukan realitas yang sesungguhnya!
Dengan langkah antusias, ia bergegas ke dalam gua dan menceritakan pada tahanan2 yang lain.
“Kawan, apa yang selama ini kita lihat bukanlah realitas sebenarnya, tetapi hanya bayang-bayang saja…Realitas sesungguhnya ada di luar gua ini!”
Akan tetapi, apa yang terjadi?
Para tahanan yang lain tidak mempercayainya.
Mereka justru mengancam, jika saja mereka tidak terbelenggu, mereka akan membunuh siapa pun yang berniat keluar dari gua.
=============
Berikut pertanyaan reflektif yang bisa membantu:
Apakah aku merasa puas dengan dunia “apa-adanya” yang kujalani sehari-hari sebagai “realitas sejati”, sebagaimana para tahanan yang menolak untuk keluar dari common-sense?
Oh…. tentu saja aku merasa puas dengan dunia apa adanya dan menjalaninya sehari-hari sebagai realitas sejati. Aku menolak keluar dan menjadikan hal itu suatu yang sangat sakral. Apalagi bila di dalam gua tersebut menjanjikan memberi tempat yang nikmat dan menyenangkan untuk hidupku dan keluargaku.
Apakah aku masih meringkuk nyaman dalam gua yang gelap? Dan apakah aku akan mencemooh (atau bahkan berniat membunuh) orang-orang yang tengah berusaha dan berhasil keluar dari gua itu?
Akan ku cemooh, kumaki-maki, bahkan kuanggap sesat mereka yang berusaha keluar, karena mereka yang berusaha keluar berarti telah menghina yang memberi kenikmatan dan kesenangan. Bukan hanya berniat untuk membunuhnya, tetapi akan kubantai meraka.
Apakah aku masih bersikap skeptis terhadap Filsafat dengan berlindung nyaman di bawah ketiak dogma dan doktrin Agama seolah-olah “Bertanya ‘Mengapa’ merupakan penodaan agama dan pelecehan terhadap Allah”?
Mengapa kamu menganggap skiptis terhadap filsafat dengan berlindung di bawah ketiak dogma dan doktrin agama? Allah itu maha suci dan maha segalanya untuk apa kamu masih bertanya “mengapa”. Akulah sang pembela agama dari segala penghinaan. Akulah sang pembela Allah. Karena Agamalah aku menjadi kyai terkenal, aku menjadi Uskup, aku dipuji orang dan sekarang hidupku dalam kenikmatan. Mungkin kamu yang merasa iri sehingga, mengkritikku dengan filsafat.Selain dari itu haram hukumnya
Apakah aku masih berpandangan, “Filsafat secara otomatis menjadikan seseorang ateis”?
Apakah aku selama ini tertarik untuk sekadar menghafal ayat-ayat kitab suci dan doktrin2 agama?
Dengan Filsafat, itu penghujatan dan penghinaan terhadap agama. bukan hanya menjadi atheis, tapi sudah sangat sesat, itu dilaknat allah. neraka jahanam lah tempatnya.
Pasti. Karena dengan menghafal ayat-ayat kitab suci dan doktrin2 agama memberikan materi yang berlimpah bagiku